Statistik

Sonora Radio



Tampilkan postingan dengan label kayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kayu. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Jembatan Kayu (Civil Expo 2011)

Gambar-gambar berikut ini merupakan gambar yang kami ambil dari 20 Finalis EXCELLENT BRIDGE COMPETITION dari berbagai Universitas se Indonesia dalam acara civil expo 2011 yang diadakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Salah satu Finalisnya adalah team Gunadarma IV yang beranggotakan I Kadek Bagus Widana Putra (saya sendiri), Ratu Nurmalika ,dan Yogi Oktopianto.


Penyelenggara Lomba Civil Expo 2011
Institut Teknologi Sepuluh Nopember




Lokasi : Grand City Mall Convex, Surabaya







Karya Jembatan untuk dilombakan (meskipun kalah ...hehehe -_-')
Menggunakan kayu balsa.

Nama Jembatan : Breadwinner Bridge (Pengentas Kemiskinan...hehehe)

Lokasi : Asrama Haji, Surabaya






Ini adalah team Gunadarma IV :

I Kadek Bagus Widana Putra
Ratu Nurmalika
Yogi Oktopianto.

Lokasi : Grand City Mall Convex, Surabaya







Bersama dengan Dosen Pembina
dan Pembimbing
Tautan
(Remi Sanjaya dan Sulardi)



Lokasi : Grand City Mall Convex, Surabaya






Narsis sebelum Perlombaan :D

lokasi : Asrama Haji, Surabaya











Narsis lagi ni,.. :D






lokasi : Asrama Haji, Surabaya






Wawancara stasiun TV lokal Surabaya tentang event yang diadakan

(jadi artis


Lokasi : Grand City Mall Convex, Surabaya







Pengujian Kuat Tekan dan Lendutan Jembatan Kayu


Lokasi : Grand City Mall Convex, Surabaya










FOTO-FOTO JEMBATAN 20 FINALIS



















Bekerja sama dengan : http://yogie-civil.blogspot.com/

Rabu, 20 April 2011

Apa Itu Daktilitas ?

Kita sering mendengar istilah daktilitas, tapi mungkin agak-agak kurang paham apa maknanya. Saya sendiri sebenarnya sedikit “alergi” jika mendengar atau membaca istilah-istilah “asing”, apalagi kalau yang dibaca adalah artikel ilmiah, ditambah lagi jika artikelnya dalam bahasa Inggris. Otak saya akan bekerja 3 kali lebih keras, hehe.

Daktilitas berlawanan dengan kegetasan. Waduh, istilah apa pula tuh? Daktilitas adalah kata benda, kata sifatnya adalah daktail. Sementara lawannya adalah getas (kata sifat) istilah “Londo”-nya brittle, sehingga kata bendanya adalah kegetasan. (kok jadi belajar Bahasa Indonesia ya?)

Anyway, kalau getas jujur saja bagi saya pribadi lebih gampang dipahami. Karena kalau mendengar kata getas saya langsung ingat dengan KERUPUK. Tapi kalau mendengar kata daktail, saya tidak bisa menemukan makanan yang sifatnya daktail (permen karet mungkin iya, tapi saya tidak doyan permen karet), makanya lebih susah memahami daktail daripada getas. :D

Kembali ke topik. Tiap material, khususnya material bangunan setidaknya punya karakteristik yang berbeda jika diberi gaya (beban). Ada yang kuat jika ditekan tapi hancur jika ditarik (misalnya beton). Ada yang kuat jika ditarik, tapi tidak ada apa-apanya jika ditekan (misalnya kabel, rantai, tali, dll), ada juga yang kuat jika ditarik dan ditekan (misalnya profil baja struktural). Dan.. tentu saja ada yang tidak kuat jika ditarik maupun ditekan, misalnya kerupuk.

ELASTIS dan PLASTIS
Konsep ini mutlak harus dipahami dulu. Karena kami bukan ahlinya, maka penjelasan di sini juga diusahakan dalam bahasa “bukan ahlinya”.

Misalnya ada sebuah benda (material), jika diberi gaya (ditarik, ditekan, atau dilenturkan), benda tersebut memanjang, memendek, atau bengkok (berdeformasi). Kemudian gaya tersebut dihilangkan, dan benda tersebut kembali persis ke bentuk dan ukuran semula. Kondisi ini dinamakan kondisi ELASTIS.

Tapi, ada suatu kondisi jika gaya tersebut ditambah besarnya, benda tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk semula. Benda itu sudah dalam kondisi PLASTIS atau INELASTIS.

Dalam kondisi elastis, besarnya gaya berbanding lurus dengan besarnya deformasi. Misalnya kita ambil gaya tarik versus penambahan panjang. Semakin bsar gaya tariknya, semakin besar pula penambahan panjangnya. Dalam pembahasan biasanya digunakan tegangan untuk mewakili gaya (σ = F/A), dan regangan untuk mewakili penambahan panjang (ε = ΔL/L)

Titik waktu pertama kali material tersebut memasuki kondisi plastis disebut Titik Leleh (Yield Stress). Pada kondisi plastis, hubungan tegangan regangan sudah menyimpang jauh dari linear. Diberi tambahan gaya sedikit saja, deformasinya bisa bertambah berlipat-lipat kali dari deformasi elastis.

Jika gaya tersebut ditambah, maka material tersebut bisa putus. Titik ini disebut titik putus, atau titik fraktur (Ultimate Stress).

Daktilitas adalah kemampuan material mengembangkan regangannya dari pertama kali leleh hingga akhirnya putus. Atau, daktilitas bisa juga kita artikan seberapa plastis material tersebut. Semakin panjang “ekor plastis”nya, semakin daktail material tersebut.

Kebalikan dengan daktail, material yang GETAS tidak memiliki “ekor plastis” yang panjang. Malah ada yang sama sekali tidak memiliki “ekor plastis”. Artinya, titik lelehnya sama dengan titik putusnya. Begitu dia leleh saat itu juga dia putus.

MODULUS ELASTISITAS
Modulus Elastisitas biasa disebut juga Modulus Young. Walaupun sebenarnya Modulus Young adalah bagian dari Modulus Elastisitas (sumber: wikipedia).

Modulus Elastisitas (nggak usah diturunkan ya persamaannya), dirumuskan sebagai:
E = \frac{\sigma}{\epsilon}
\sigma  adalah regangan, dan \epsilon  adalah regangan.
Pada grafik hubungan tegangan-regangan, kemiringan kurva elastis menunjukkan besarnya Modulus Elastisitas.

Semakin tegak kurva elastisnya, maka semakin besar nilai E-nya. Sebaliknya semakin landai kurvanya, semakin kecil nilai E-nya.

BAJA
Di antara tiga material utama konstruksi (baja, beton, kayu), baja adalah material yang paling daktail. Tegangan lelehnya tinggi, regangan maksimumnya besar. Modulus Elastisitasnya juga tinggi.

BETON
Beton kebalikan dengan baja. Beton justru sangat tidak daktail. Beton malah sangat getas ketika mengalami tegangan tarik. Sedangkan ketika mengalami tekan, perilaku elastisnya hanya terlihat sekitar 0 – 30% dari kuat tekan beton. Setelah itu tidak elastis lagi. Hal ini konon diakibatkan karena munculnya retak-retak pada saat tegangan sudah mulai tinggi.

KARET
Karet adalah contoh material yang sangat fleksibel (modulus Elastisitas kecil) tapi juga getas. Artinya, begitu mencapai titik leleh seketika itu juga karet itu putus.

Regangan karet bisa mencapai lebih dari 100%, artinya karet dapat memanjang 2 kali (bahkan lebih) dari panjang semula.
Regangan beton (tekan) paling maksimal sekitar 0.3-0.4 persen.
Regangan leleh baja sekitar 0.2 persen, dan regangan putusnya mencapai 15%. (so, kalau anda mau menarik sebuah tulangan baja hingga putus, paling tidak anda harus bisa menarik tulangan tersebut menjadi 15% lebih panjang terlebih dahulu baru kemudian baja itu akan putus)

Kalo digambarkan ketiganya kurang lebih perbandingannya seperti gambar berikut.

KERUPUK
Kebetulan belum ada laboratorium yang mengadakan penelitian tentang hubungan tegangan-regangan dari kerupuk. Mungkin anda berminat?

Dari pembahasan ini akan muncul istilah-istilah lain seperti:

1. Sendi Plastis.
Sendi plastis adalah kondisi ujung-ujung elemen struktur yang semula kaku (rigid) atau terjepit sempurna, kemudian menjadi sendi (pinned) karena material penyusunnya (dalam hal ini baja) telah mengalami kondisi plastis.

Misalnya sambungan balok ke kolom pada awalnya didesain kaku (rigid), namun karena momen tumpuan sangatt besar mengakibatkan semua tulang tarik pada balok mengalami leleh. Jika sudah leleh, tentu sudah tidak elastis lagi.
Gaya gempa yang arahnya bolak balik menyebabkan sisi atas dan sisi bawah balok secara bergantian mengalami tekanan tarik dan tekan yang besar, bahkan dapat membuat beton menjadi retak atau hancur.
Dalam kondisi seperti ini, kekuatan ujung balok bergantung kepada tulangan. Deformasinya (dalam hal ini putaran sudut) menjadi besar, dan ujung balok tidak rigid lagi, alias sudah seperi sendi.

2. Daktilitas Penampang.
Daktilitas penampang adalah kemampuan penampang untuk mengembangkan deformasinya setelah mengalami leleh pertama kali.

Atau bisa disebut juga seberapa lama suatu elemen struktur bisa bertahan dengan kondisi sendi plastis di ujung-ujungnya.

3.Daktilitas Struktur
Daktilitas secara keseluruhan. Khususnya dalam memikul beban lateral (gempa).

Tiga hal ini insya Allah akan dibahas di lain kesempatan. Semoga bermanfaat.[]


Source : http://duniatekniksipil.web.id/

Sabtu, 08 Januari 2011

Kemajuan Teknik Desain Tahan Gempa


Pendekatan konvensional untuk merancang bangunan tahan gempa tergantung pada pemberian bangunan dengan kapasitas deformasi kekuatan, kekakuan dan inelastik yang cukup besar untuk menahan tingkat tertentu gaya gempa yang dihasilkan. Hal ini umumnya dicapai melalui seleksi dari konfigurasi struktur yang tepat dan hati-hati rincian dari anggota struktural, seperti balok dan kolom, dan hubungan antara mereka. Sebaliknya, kita dapat mengatakan bahwa pendekatan dasar yang mendasari teknik yang lebih maju untuk tahan gempa tidak untuk memperkuat gedung, tetapi untuk mengurangi gaya gempa yang dihasilkan bertindak atasnya. Di antara teknik-teknik canggih yang paling penting dari desain tahan gempa dan konstruksi isolasi dasar dan perangkat energi disipasi.

Base Isolasi Hal ini paling mudah untuk melihat prinsip ini di tempat kerja dengan mengacu langsung kepada yang paling banyak digunakan teknik-teknik canggih, yang dikenal sebagai dasar isolasi.Struktur dasar terisolasi didukung oleh serangkaian bantalan bantalan yang ditempatkan di antara bangunan dan pondasi bangunan (lihat Gambar 1) Berbagai jenis bantalan bantalan dasar isolasi kini telah dikembangkan. Sebagai contoh kita, kita akan membicarakan bantalan timbal-karet. Ini merupakan jenis yang sering digunakan bantalan isolasi dasar.(Lihat Gambar 2) A bearing timbal-karet terbuat dari lapisan karet terjepit bersama-sama dengan lapisan baja. Di tengah bantalan adalah memimpin "plug." Solid Di atas dan bawah, bantalan dipasang dengan pelat baja yang digunakan untuk melampirkan bantalan untuk bangunan dan pondasi. bantalan ini sangat kaku dan kuat dalam arah vertikal, tetapi fleksibel dalam arah horisontal.

isolasi dasar bantalan maju tahan gempa

Gaya Utama Gempa Untuk mendapatkan ide dasar karya isolasi bagaimana dasar, pertama meneliti Gambar 3. Ini menunjukkan sebuah gempa yang bekerja pada kedua sebuah bangunan dasar dan terisolasi, konvensional fixed-base, bangunan. Sebagai hasil dari gempa bumi, tanah di bawah setiap bangunan mulai bergerak. Pada Gambar 3, terlihat bergerak ke kiri. Setiap gedung merespon dengan gerakan yang cenderung ke arah kanan. Kita mengatakan bahwa bangunan itu mengalami perpindahan ke arah kanan.perpindahan Bangunan dalam arah yang berlawanan gerakan tanah sebenarnya disebabkan inersia. Gaya-gaya inersia yang bekerja pada sebuah bangunan yang paling penting dari semua yang dihasilkan selama gempa bumi.

Hal ini penting untuk mengetahui bahwa gaya inersia yang mengalami bangunan sebanding dengan percepatan gedung selama gerakan tanah. Hal ini juga penting untuk menyadari bahwa bangunan tidak benar-benar pergeseran hanya satu arah.

Karena sifat kompleks gerakan gempa tanah, bangunan sebenarnya cenderung bergetar bolak-balik dalam berbagai arah.Jadi, Gambar 3 adalah benar-benar merupakan semacam "snapshot" bangunan hanya pada satu titik tertentu yang tanggap gempa bumi tersebut. maju teknik tahan gempa

Selain menggusur ke kanan, bangunan un-terisolasi juga ditampilkan akan mengganti yang bentuk-dari persegi panjang ke genjang. Kita mengatakan bahwa bangunan itu adalah deformasi. Penyebab utama kerusakan gempa untuk bangunan adalah deformasi yang bangunan mengalami sebagai akibat dari gaya inersia yang bekerja atasnya.

Berbagai jenis kerusakan yang bangunan dapat menderita cukup bervariasi dan tergantung pada sejumlah besar faktor rumit. BTapi untuk mengambil satu contoh sederhana, orang dapat dengan mudah membayangkan apa yang terjadi pada dua potong kayu bergabung di sudut kanan oleh beberapa paku, ketika bangunan yang sangat berat mengandung mereka tiba-tiba mulai bergerak sangat cepat - paku tarik keluar dan koneksi gagal .

Reaksi Bangunan dengan Base Terisolasi Sebaliknya, meskipun juga merupakan menggusur, bangunan dasar-terisolasi mempertahankan aslinya, bentuk persegi panjang. Ini adalah timbal-karet bantalan mendukung bangunan yang cacat. Bangunan basis-terisolasi sendiri terlepas dari deformasi dan kerusakan-yang menyiratkan bahwa gaya inersia yang bekerja pada bangunan dasar yang terisolasi telah dikurangi.

Percobaan dan pengamatan bangunan dasar-terisolasi di gempa bumi telah terbukti mengurangi percepatan pembangunan untuk sesedikit 1 / 4 percepatan bangunan tetap-dasar sebanding, yang mengalami setiap bangunan sebagai persentase dari gravitasi.Seperti yang kita mencatat kenaikan di atas, inersia kekuatan, dan mengurangi, proporsional sebagai percepatan kenaikan atau penurunan. Akselerasi menurun karena sistem isolasi dasar memperpanjang periode bangunan getaran, waktu yang diperlukan untuk membangun rock bolak-balik dan kemudian kembali lagi.Dan pada umumnya, struktur dengan periode lama getaran cenderung mengurangi percepatan, sementara mereka dengan periode lebih pendek cenderung untuk menambah atau memperkuat percepatan.

Akhirnya, karena mereka sangat elastis, bantalan karet isolasi tersebut tidak mengalami kerusakan apapun. Tapi bagaimana dengan yang plug memimpin di tengah-tengah bantalan contoh kita? Ini mengalami deformasi yang sama seperti karet. Namun, juga menghasilkan panas seperti halnya begitu.

Dengan kata lain, steker memimpin mengurangi, atau menghilang, energi gerak-yaitu, energi kinetik-dengan mengubah energi yang menjadi panas. Dan dengan mengurangi energi yang memasuki gedung, hal ini membantu untuk memperlambat dan akhirnya berhenti getaran bangunan cepat daripada yang akan menjadi kasus-dengan kata lain, meredam getaran gedung. (Damping adalah properti fundamental dari semua badan bergetar yang cenderung untuk menyerap energi tubuh gerak, dan dengan demikian mengurangi amplitudo getaran sampai gerak tubuh akhirnya berhenti.) Spherical Sliding Isolasi Systems Seperti yang kita katakan sebelumnya, timbal-karet bantalan hanya salah satu dari sejumlah jenis bantalan isolasi dasar yang kini telah dikembangkan. Spherical Sliding Isolasi Sistem adalah jenis lain dari isolasi dasar. Bangunan ini didukung oleh bantalan bantalan yang memiliki permukaan melengkung dan gesekan rendah.

Selama gempa, bangunan ini bebas untuk slide pada bantalan. Karena bantalan memiliki permukaan melengkung, bangunan slide secara horisontal dan vertikal (Lihat Gambar 4.) Gaya yang dibutuhkan untuk memindahkan bangunan ke atas batas kekuatan horizontal atau lateral yang lain akan menyebabkan deformasi bangunan. Selain itu, dengan menyesuaikan radius permukaan bantalan itu melengkung, properti ini dapat digunakan untuk merancang bantalan yang juga memperpanjang periode bangunan getaran. Advanced Teknik Gempa

Energi Pembuangan Perangkat Yang kedua dari teknik baru utama untuk meningkatkan bangunan tahan gempa juga bergantung pada disipasi redaman dan energi, tetapi sangat memperluas disipasi redaman dan energi disediakan oleh bantalan timbal-karet. Seperti yang kita katakan, sejumlah energi getaran akan dipindahkan ke bangunan dengan gerakan gempa tanah.Bangunan sendiri juga memiliki kemampuan melekat untuk mengusir, atau lembab, energi ini. Namun, kapasitas bangunan untuk menghilangkan energi sebelum mereka mulai mengalami deformasi dan kerusakan cukup terbatas. Bangunan ini akan menghilangkan energi baik dengan melakukan gerakan skala besar atau mempertahankan strain internal meningkat pada unsur-unsur seperti kolom bangunan dan balok. Kedua akhirnya menghasilkan berbagai tingkat kerusakan. Jadi, dengan melengkapi gedung dengan perangkat tambahan yang memiliki kapasitas peredaman tinggi, kita dapat sangat mengurangi energi seismik memasuki gedung, dan dengan demikian mengurangi kerusakan bangunan.

Dengan demikian, berbagai perangkat disipasi energi telah dikembangkan dan sekarang sedang dipasang di bangunan nyata. perangkat disipasi energi juga sering disebut perangkat redaman. Jumlah besar perangkat redaman yang telah dikembangkan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori besar: 1. Friction Dampers – Gesekan Dampers - ini memanfaatkan gaya gesek untuk mengusir energi 2. Metallic Dampers– Logam Dampers- memanfaatkan deformasi unsur logam di dalam damper 3.Viscoelastic Dampers– Viscoelastis Dampers- memanfaatkan geser dikendalikan padatan 4. Viscous Dampers– Kental Dampers- memanfaatkan gerakan paksa (orificing) cairan dalam damper

Cairan kental Dampers Sekali lagi, untuk mencoba untuk menggambarkan beberapa prinsip umum perangkat redaman, kita akan melihat lebih dekat pada satu jenis perangkat redaman tertentu, Fluida viskos Damper, yang merupakan salah satu berbagai viscous damper yang telah secara luas digunakan dan telah terbukti sangat efektif dalam berbagai macam aplikasi.

perangkat Damping biasanya diinstal sebagai bagian dari sistem bracing.Gambar 5 memperlihatkan salah satu jenis peredam-brace pengaturan, dengan salah satu ujungnya melekat pada kolom dan salah satu ujungnya menempel pada balok lantai. . Terutama, pengaturan ini menyediakan kolom dengan dukungan tambahan. Advanced Teknik Gempa

Kebanyakan gempa gerakan tanah berada dalam arah horisontal, maka, itu adalah kolom suatu bangunan yang biasanya mengalami perpindahan yang paling relatif terhadap gerakan tanah. Gambar 5 juga menunjukkan perangkat redaman diinstal sebagai bagian dari sistem bracing dan memberikan beberapa gagasan tentang aksinya.

www.civilengineeringnews.net

Selasa, 02 November 2010

Analisis Rangka Batang (Truss) Sederhana

Bentuk struktur rangka batang (truss) dipilih karena mampu menerima beban struktur relatif besar dan dapat melayani kebutuhan bentang struktur yang panjang. Bentuk struktur ini dimaksudkan menghindari lenturan pada batang struktur seperti terjadi pada balok. Pada struktur rangka batang ini batang struktur dimaksudkan hanya menerima beban normal baik tarikan maupun beban tekan. Bentuk paling sederhana dari struktur ini adalah rangkaian batang yang dirangkai membentuk bangun segitiga (Gambar 3.41). Struktur ini dapat dijumpai pada rangka atap maupun jembatan.

Titik rangkai disebut sebagai simpul/ buhul atau titik sambung. Struktur rangka statis umumnya memiliki dua dudukan yang prinsipnya sama dengan dudukan pada struktur balok, yakni dudukan sendi dan dudukan gelinding atau gelincir. Gambar 3.42 menunjukkan struktur rangka batang yang tersusun dari rangkaian bangun segitiga yang merupakan bentuk dasar yang memiliki sifat stabil. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk kestabilan rangka batang dapat dituliskan sebagai berikut.

Rangka batang tersebut terdiri dari 9 batang struktur (member) dan 6 titik sambung atau simpul (A-F). Sebagaimana dikemukakan pada bagian balok, bahwa dudukan sendi A dapat menerima 2 arah komponen reaksi, RV dan RH. Sedangkan dudukan gelinding B dapat menerima komponen reaksi RV. Sehingga terdapat 3 komponen reaksi dudukan. Berdasarkan persyaratan tersebut kestabilan rangka batang dapat ditulis :

n = 2 J – R

9 = 2*6 – 3

9 = 12 – 3 (ok)

Untuk dapat menentukan gaya dengan prinsip perhitungan gaya sesuai hukum Newton, persyaratan kestabilan tersebut harus dipenuhi lebih dahulu. Jika suatu struktur rangka tidak memenuhi persyaratan kestabilan tersebut, struktur rangka tersebut disebut sebagai struktur rangka statis tak tentu. Struktur statis tak tentu ini memerlukan persamaan dan asumsi cukup rumit dan merupakan materi untuk pendidikan tinggi. Metoda yang banyak digunakan dalam perhitungan rangka sederhana adalah metoda kesetimbangan titik simpul dan metoda potongan (Ritter).

3.6.1. Metoda Kesetimbangan Titik Simpul (Buhul).

Metoda ini menggunakan prinsip bahwa jika stabilitas dalam titik simpul terpenuhi, berlaku hukum bahwa jumlah komponen reaksi ???? R harus sama dengan nol, ???? Rh = 0, ???? RV = 0, ???? RM = 0. Dengan begitu gaya batang pada titik simpul tersebut dapat ditentukan besarnya. Metoda ini meliputi dua cara yakni secara analitis dan grafis.

Tahapan yang perlu dilakukan untuk menentukan gaya batang pada struktur rangka batang adalah sebagai berikut.

? Memeriksa syarat kestabilan struktur rangka batang

? Menentukan besar gaya reaksi dudukan

? Menentukan gaya batang di tiap simpul dimulai dari simpul pada salah satu dudukan.

? Membuat daftar gaya batang

Secara grafis, skala lukisan gaya harus ditentukan lebih dahulu baru kemudian melukis gaya yang bersesuaian secara berurutan. Urutan melukis dimaksud dapat searah dengan jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.

Membuat daftar gaya batang

Contoh persoalan struktur di atas merupakan bentuk rangka batang simetris dengan yang simetris pula. Gaya batang yang bersesuaian akan memiliki besaran yang sama. Daftar gaya batang dapat ditunjukkan seperti pada tabel berikut.


3.6.2. Metoda Ritter

Metoda ini sering disebut metoda potongan. Metoda ini tidak memerlukan penentuan gaya batang secara berurutan seperti pada metoda titik simpul. Prinsipnya adalah bahwa di titik manapun yang ditinjau, berlaku kestabilan ???? M = 0 terhadap potongan struktur yang kita tinjau. Dengan persamaan kestabilan tersebut gaya batang terpotong dapat kita cari besarnya. Dengan mengambil contoh soal terdahulu, penentuan besar gaya batang melalui metoda pemotongan adalah sebagai berikut (gambar 3.44).

Perhitungan dengan metoda Ritter menunjukkan bahwa tanpa lebih dahulu menemukan besar gaya batang S6, gaya batang S5, S1 dan S7 dapat ditentukan. Untuk menentukan besar gaya batang S6 dapat dilakukan dengan pemotongan seperti ditunjukkan pada Gambar 3.25.

Menentukan Gaya Batang S5

Untuk menentukan besar gaya batang S5, tinjau titik simpul C. Seperti halnya mencari gaya S1, perhatikan potongan sebelah kiri pada gambar 3.45.

Sumber :

Ariestadi, Dian, 2008, Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 169 – 175.

Daftar Pengunjung